biasa aja..
kita harus menghargai diri kita sendiri dulu, baru kita bisa mengharapkan orang lain untuk menghargai..
satu kalimat yang biasa namun benar berarti, diucapkannya malam itu padaku. dan dari sekian banyak nasihat yang pernah kuperoleh dalam enam bulan ini, entah kenapa kalimat di atas begitu berpengaruh.meski disampaikan hanya dalam sela canda, belum lagi pernah pula kudengar diucapkan orang lain. oprah, hahaha, wanita kulit hitam yang acara televisinya ditonton jutaan orang.
berbeda benar kalau kalimat itu disampaikan oleh dia yang sangat kusayang. dia.. haha, aku tertawa lagi.
banyak benar sudah yang kupelajari darinya sejak dulu berkenalan secara ‘resmi’. jadi ingin mengingat sore itu. Februari, dan dia datang terlambat..
******************************************************************************
"maaf ya, mau ke kamar mandi dulu" Merah. Tas kecil. dan bibir itu.
"iya" Jawabku sekenanya. biasa perempuan. dari mana-mana yang duluan dicari adalah kamar mandi, atau kamar kecil, atau kamar-kamar seperti itulah. naluri mereka mungkin.
lima menit dan dia kembali. masih dengan kalimat tanggung, pendek.
"udah pesen? gue pesen dulu ya. laper banget".
"udah" sambil menoleh ke arahnya. lalu kembali menikmati langkah-langkah kecil orang yang lalu lalang di luar coffe shop itu.
"kita pindahan yuk" dia kembali
"hayo. mau di mana? di luar?" kali ini mataku lurus menatapnya. pakaian panjang, jilbab. warna dasar dengan tema merah terasa indah. hihi.
"boleh. Tapi kayanya mau hujan, ga apa-apa?" meraih tas, dia memanggil pelayan untuk membawakan minumanku yang tinggal setengah.
"ga apa-apa. Biar gue bawa sendiri"
aku mempersilakannya jalan duluan. sedikit etika.
"di sini aja ya. enakeun"
"boleh"
empat kursi, satu meja dan kami duduk berhadapan. dan kami bicara 2 jam penuh.
sekarang, malam ini. setelah hampir tiga hari tanpa telepon, satu kalimat yang tadi kujadikan pembuka diucapkannya.
ah, dia. masih malaikatku.
God’s special delivery. though it never ment for me. i am glad she is here. at least, di hati. di mimpi. teman baru bilang; cawan smara. cawan yang tak pernah terisi olehku. tak sanggup. berat. terlalu besar dan mewah.
masih saja aku menganggap aku seorang pecundang.
dan begitu cerita ini usai disampaikan. aku merasa akan ada pesan di kotak pos maya ini.atau pesan teks di telepon genggam. atau malah telepon. atau malah cuma comment biasa; "apa sii?". atau malah sama sekali tak terjadi apa-apa. diam malah jauh menyiksa. dan dia tahu benar.
ah, bahagianya aku. ( atau sedih? )
catatan juni 25, dini hari