Archive for August, 2006

UFO

Friday, August 18th, 2006

do you realy think what i think Ron? kataku
do i realy have to say it twice? dia malah balik bertanya
that is not the point, dude.
so what is? tanyanya. rambut merahnya menjuntai menutupi sebagian alis dan mata kirinya. haha, andai aku wanita.
i dont know..[pinter juga orang ini, mengena]
listen, katanya, we are one. its not that hard to imagine.
i know..[lagi-lagi mengena]
so why bother asking?
its just that we were never agreed about anything before.
there is always the first time d-u-d-e. dia mengejanya dengan nada mengejek. setengah tertawa.
so where do we gonna put this picture?  your heart or mine?
ronald tidak menjawab. tangannya mempermainkan remote televisi yang rusak. matanya tertuju pada foto yang kupegang, tapi jelas hatinya tidak.
i dont think we should keep it, dia memecah sunyi tiba-tiba.
what? i thought..
yeah you thought we wanted. katanya memotong. but i dont. its just you.
but, you just say that you and i are thinking the same way.
i did. but i think, we agreed that we both love her. not agreed to keep a picture of her.
damn you!
o yea? damn you.
dia membalas dengan dingin. selalu ada perasaan aneh setiap dia memakiku seperti barusan. perasaan antara kaget, marah dan senang. kaget, karena dia hanya akan memaki pada situasi yang benar-benar mendesak. marah, karena dia cuma sosok bayanganku, alter-ego yang tak berbentuk nyata. senang, karena meski dia memaki, dia tetap tenang. haha, aku memang aneh.
so what should we do with this picture.
dont ask me. ask your self.
i am asking to my self, kataku. in case youre forget, you are me Ron.
ronald berdiri dan lalu membelakangiku. sambil berlalu, dia mengucap satu kalimat yang akan selalu kuingat baik-baik seumur hidupku.
if you are so smart, you wouldnt be needing me at the first place…
[yes Ron, i dont need you anymore]

when we decided

Saturday, August 5th, 2006

jurig mampus asam kentut kadal bengkok muka penyok!!
hahahahahaha
eh jangan ketawa lu, mikir! ini bukan cuma tentang gue. juga lu dan kita semua!
lo?
….
udah mi, kita bisa cari jalan keluar tanpa makian, tanpa emosi sesaat.
…..[terisak di seberang sambungan]
yee dia nangis.
telepon terputus. waktu berjalan pelan dengan derap tak beraturan. kadang seragam, kadang serabutan.
aneh, hidup ini. kemarin indah bertaburan cinta. sampai sampai lauk makanku seperti berwarna merah muda. tapi hari ini, caci maki.
dia wanita. aku wanita. aku tahu dia lebih tahu siapa yang tidak tahu.
hebatnya, justru si satu itu, yang benar benar dia harap untuk tahu dan setuju, adalah satu yang benar benar tidak tahu.
laki-laki memang tolol. cuma mengandalkan otot dan pikiran tanpa perasaan sama sekali. huhuhu. mereka bahkan lebih tolol dari keledai. ya kan? bicaralah terus terang. pria hanya didorong keinginan untuk berkuasa, lebih hebat dari sesamanya. di lain waktu pria begitu sensitif, seperti bayi prematur tanpa kelamin. ah pria, kalian munafik!!

proper hatred

Tuesday, August 1st, 2006

i love her, katanya. dahi yang berkeringat dan nafas yang memburu tidak membuatnya berhenti mengucap kalimat itu.
what do i care? kubalas tak acuh.
man, katanya sambil menyeka keringat di dagunya, deep down inside, you know you care.
o shut up. aku berusaha mencegahnya berbicara lebih banyak. setidaknya untuk sebentar.
matahari telah tinggi, dan lapangan tanah merah itu kini menyilaukan.
would you kick the ball? kataku kemudian memecah sunyi.
no.
do as you like Ron. but let it stay out side. don’t push it.
i am not.
and what the hell do  you think this is?!! aku benar benar kesal. Ronald memutus tali yang kubentang kencang antara amarah dan sayangku untuknya. satu-satunya teman yang layak kusebut teman.
i asure you that i am not pushing you. i am trying to tell you the truth. she is yours, her heart was never mine. you know it.
no she’s not!
o yea?! fuck you! ronald mengagetkanku. matanya memerah dibalik luapan emosi yang tak pernah dia perkenalkan padaku. aku tak pernah yakin dia bisa marah, sampai detik sebelum dia memakiku tadi.
hei. look man..
no! you hear me! katanya
i would love to give everything for her. love, life and  even death it self. but dyou know what?! she does not love me. Ronald terisak. tak pernah dia membiarkan dirinya terjebak dalam kerangkeng emosi. dan terus terang, aku ngeri dengan kondisinya saat ini.
i am sorry.
its to late to be sorry man. nada suaranya kembali turun. take her.
can’t we just forget about her and pretend that she doesnt exist? kataku memberi usul.
fuck you man…ronald terduduk letih. keringat dan air mata melebur di mukanya.
fuck you Ron..kataku.
dan setiap menit yang berlalu mengalir bisu.
do you know i love her? Ronald bicara. kami saling bersandar pada punggung.
of course i know, you d@#*head. you talk about her every day.
yea..dia terkikik kecil. do you love her?
aku terdiam.
i just like the taste of her skin..kataku akhirnya
aku merasakan hangat mengalir di pipiku. setetes air. hujankah? suasana sedingin es saat aku teringat rasanya menangis. ini air mataku teman, karenamu.
hei Ron. kataku akhirnya.
yea..?
you deserve better man.
i know….   
aku berdiri. percakapan yang kulalui tiap hari, kini berakhir dengan kesimpulan baru.
lapangan tanah merah ini menatapku. mungkin lucu baginya melihat seorang pria bicara pada dirinya sendiri. tapi aku dan ronald adalah karib. meski dia tinggal di dalam kepalaku…