sisipan
Saturday, November 25th, 2006kita memaki dengan bahasa yang sama,
sampai malam itu kau teteskan airmata karenaku.
entah karena dunia entah karena jagad raya,
entah karena senja, entah karena suasana
lembut embun yang mengalir dari jendela berlapis mutiara itu menjadi sangat indah.
hanyutkan aku jauh
hanyutkan aku memasuki indah yang baru
kudekap dengan dua tangan dan dadaku
kusesap bau keringatmu
kubayangkan kau tulang rusukku
kunikmati getaran dan seguk tangismu
ah mati…
hidup tak pernah senikmat ini
mungkin ini arti fana, menggeliat dalam airmata
tertawa dalam duka, memaki di kala cinta
kubilang; aku manusia yang khilaf, fana dan tak lekang dari salah
kubilang; kau bukan semesta tapi ini cerita kita
kubilang; hatiku menipu
kubilang; aku…adalah milikmu
lalu malam berpura-pura jadi buta
kusesap kembali udara malam dari antara rambut dan lehermu, pura-pura tidak tahu
kubenamkan mukaku, dalam-dalam
dalam dalam..
inikah akhirnya, kesimpulan cerita pendeknya?
inikah awalnya, novel picisan yang bertema biasa, cinta?
terserah,
malam dikutuk untuk jadi buta, aku juga
aku juga
26 november 2006, lepas tawa