Sunday, March 2nd, 2008
| analogi perigi. | Apr 25, ‘06 9:34 AM for everyone |
anak kecil itu bernama andang. kulitnya coklat matang terbakar
matahari. mata coklat dengan bulu mata yang tidak terlalu bagus
miliknya liar menatap lalat yang beterbangan.
‘apa yang mereka kerjakan?’ mungkin dalam pikirnya.
tangannya lalu meraih satu lalat yang hinggap. hampir terjatuh dia saat
kursi yang didudukinya terjungkit ke depan. lalat itu terbang.
’sial’ katanya salam hati.
dia bangkit dan berjalan mengikuti arah terbang lalat. melompat
sesekali waktu lalat itu hinggap di tempat yang agak tinggi. berlari
mengejar dengan celana yang merosot turun jauh di bawah pinggang saat
lalat itu terbang terlalu cepat.
‘lalat, lalat, kembalilah. tak kan kusakiti kau’
napasnya terengah engah menyeru kepada sang lalat. menyeru dengan nada merayu. diselipkan teliti agar sang lalat tak besar hati.
‘lalat, lalat, temani aku. kuberi kue kering kesukaanmu’
duduknya bersimpuh, dahi berpeluh. kakinya tak hendak lagi berlari.
dilipat rapi mengharap lalat menghampiri.
‘temani aku..’ gumamnya lirih.
‘temani aku…’ katanya lagi, penuh perih.
untuk teman yang kurindu, kunanti, kucinta sepenuh hati.