“Hari Kartini”

Jangan tertipu oleh judul yang berbau nasionalisme dan emansipasinya. Karena hanya kebetulan di Hari Kartini, 21 April 2008, gua ngerasain apa yang selama ini selalu gua kangenin untuk masa yang sangat lama! haha.
Tegang, exited, bersemangat sekaligus takut, malu-malu dan memalukan.
Tapi jangan harap gua cerita apa yang terjadi di Hari Kartini tahun ini. hahaha, yang di hati, tetap di hati. betul kan?
ga berjalan sempurna, tapi bolehlah.
Anyways, jadi terpikir untuk posting puisi yang baru aja gua tulis, terinspirasi oleh momen hari ini yang super awkward yet priceless, hahahah:

sesaat, selagi sempat

nyanyian april dalam pekat angin dari arah utara,
sedikit aroma kamboja dan rumput basah
deru dalam pelita seterang lampu minyak tua
menari bergoyang, berputar-putar

satu langkah untuk seribu tumbak perang
satu suara untuk memulai sekelebat peluang
matanya tentu bukan yang paling indah, tapi jelas yang paling terang
suaranya mungkin tak semerdu nyanyian bintang, tapi..
ah..aku akan memuja, merangkak menyembah untuk mendengarnya mendendang

mungkin ini hanya pesona april dengan angin dingin sebelum kemarau
mungkin juga hanya pelarian kesepian
atau sekedar luapan kelaparan, gizi buruk akibat kurang dekapan

mungkin hanya pesona kulit eksotis
panah aphrodite, dewi kasmaran yunani yang tersasar akibat salah tempat pelesir
cawan rindu yang tertumpah serampangan

siapa peduli?
aku saja tidak ambil pusing
akan kureguk meski cawan itu berisi racun, karena dengan begitu aku tahu aku hidup, kan?
sini kemari cinta
kuhidupi dan kusirami tiap hari
sini kemari semua, aku bahagia hari ini
jadi mari
kusuguhi tarian perang dan tabuh kendang
untuk hati dan hari jadi
sesaat, selagi sempat!

Hihihihi, puisi selau jadi media paling pas untuk menyampaikan isi hati. curhat universal supaya semua bisa ikut menikmati tanpa saling menyinggung privasi.
asik asik, aku bahagia.
terimakasih april

hari ini oke juga. okelah.

Leave a Reply