konklusi
"baik" kata pria besar di depan kelas. dasinya terurai di lehernya. kemeja yang dikenakannya kusam dengan sedikit robekan kecil di kerah. jasnya tak kalah muram. warna hitamnya kini berubah abu-abu dimakan usia.
pria itu lalu melanjutkan,
"setelah dibahas dengan teliti, mungkin ada yang bisa mempresentasikan kronologisnya, agar kita lebih mudah menyimpulkan" pria itu menatap bergantian mahasiswanya. di sana, duduk berjajar dimulai dari barisan kedua kursi dari depan
adalah sepuluh orang mahasiswa yang mengambil mata kuliah AC-401, filsafat hati.
seorang mahasiswa berkulit cokelat gelap, berkacamata-yang jelas sekali hanya dipakai agar terlihat sedikit lebih cerdas- mengangkat tangan.
"silakan, mas yang itu" pria itu menunjuk dengan matanya. lalu duduk disandaran kursi baris paling depan.
"kasus yang kita bahas sangat jelas" mahasiswa itu memulai.
"klasik kisah cinta seorang pria yang mendamba wanita impiannya, yang kebetulan tidak mendambanya" terlihat raut serius saat pria itu mengangkat setumpuk berkas kusal yang dengan biadab setiap hari dibaca, dibuka dengan semangat 45, lalu dilempar ke atas meja kerja saat tidak ditemukan jalan keluar.
"dari data yang kita punya, hampir 80% adalah data yang kita punya tentang tindakan si pria terhadap si wanita" katanya
dia melanjutkan sambil menatap teman teman sekelasnya satu persatu, berapi api.
"tapi tidak sebaliknya"
"si wanita hanya menanggapi, tapi tidak memulai"
to be continued along my life-just wait and see-